|
APAKAH YANG KITA LAKUKAN SAAT BERUSIA 60 - 80 TAHUN?
29 Juni 2009
8:25 tetapi jika ia berumur lima puluh tahun haruslah ia dibebaskan dari pekerjaan itu, sehingga tak usah ia bekerja lebih lama lagi.
8:26 Ia boleh membantu saudara-saudaranya di Kemah Pertemuan dalam menjalankan tugas mereka, tetapi tidak usah lagi ia menjabat pekerjaan itu. Demikianlah harus kaulakukan kepada orang Lewi mengenai tugas mereka."
Ayat diatas memberikan ide bahwa di usia 50-an para imam Lewi akan menarik diri dari tugas-tugas biasa dan tidak lagi bekerja, melainkan mereka diminta untuk membantu saudara-saudara di kemah pertemuan. Tidak ada yang baru tentang perubahan hidup ke arah yang lebih baik di usia 50-an. Pelayanan yang dimaksud adalah membuka mata dan telinga, melakukan peran sebagai pendoa syafaat, melakukan evaluasi dan mengambil keputusan, melakukan peran melindungi yaitu dengan hikmat yang diteruskan kepada para pemimpin baru di dalam sekolah kehidupan, dan seterusnya.
Berikut tulisan Henri Nouwen dalam the Diary of His Final Year
“Bagi saya ini adalah pertanyaan yang semakin penting, tak diragukan lagi. Selama bertahun-tahun, saya telah membangun reputasi tertentu. Orang-orang berpikir tentang saya sebagai seorang pendeta, seorang penulis rohani, seorang anggota komunitas berisikan orang-orang yang cacat, seorang yang mengasihi Allah, dan mengasihi sesama. Sungguh luar biasa memiliki reputasi semacam itu. Tetapi belakangan saya menemukan diri saya terperangkap di dalamnya, dan saya justru melihatnya sebagai sesuatu yang membatasi saya. Tanpa saya inginkan, saya merasakan suatu tekanan di dalam diri saya untuk mempertahankan reputasi itu, dan terus-menerus menunjukkannya melalui tulisan dan lain-lain yang cocok dengan yang diharapkan oleh gereja, keluarga saya, teman-teman saya, pembaca saya. Saya terperangkap karena saya merasa bahwa ada semacam agenda yang mesti saya ikuti demi untuk menjadi setia.
Tetapi karena kini saya sudah memasuki usia 60-an, pemikiran-pemikiran baru, perasaan-perasaan, emosi dan kegairahan yang baru telah muncul di dalam diri saya, yang tidak selalu sejalan dengan yang sebelumnya saya miliki. Jadi saya bertanya kepada diri sendiri, “Apa tanggung jawabku kepada dunia di sekitar aku, dan apa tanggung jawabku untuk diriku sendiri? Apa artinya menjadi setia di dalam panggilanku? Apakah itu menuntut aku untuk konsisten dengan cara hidupku atau cara berpikirku yang sebelumnya, ataukah itu meminta aku untuk berani bergerak dalam arah yang baru? Saya semakin menyadari bahwa Yesus mati ketika ia berusia awal 30-an, dan saya hidup 30 tahun lebih lama daripada Yesus. Bagaimanakah Dia akan hidup dan berpikir jika Dia hidup seusia saya? Saya tidak tahu. Tetapi bagi saya, banyak pertanyaan dan perhatian baru muncul di usia saya yang sekarang, yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dan semuanya menunjuk kepada semua tingkatan kehidupan: komunitas, doa, persahabatan, keintiman, pekerjaan, gereja, Tuhan, kehidupan dan kematian. Kesimpulannya, jangan pernah berhenti melayani Tuhan dan sesama hanya karena alasan usia tua, sebaliknya marilah perbaharui motivasi anda seiring munculnya pemikiran-pemikiran, perasaan-perasaan, emosi dan kegairahan anda yang baru yang bersumber dari Tuhan.
Tuhan Memberkati.
|






