SeorangSahabat.org Amsal 17:17 SeorangSahabat.org
  • Home
  • Tentang Kami
  • Renungan
  • Berita
  • Kesaksian
  • Galeri
  • Doa-ku
IBADAH YANG SEJATI DAN IMPLEMENTASINYA (Bagian II)
16 Maret 2009

Bagian II:

Yakobus 1:26-27

Ay. 26: “Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.”

Ay. 27: “Ibadah yang murni dan yang  tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.”

 

Ø        Teks Yakobus 1:26-27

·         Situasi (Sitz im leben) Pembaca:

Bagaimana keadaan mereka?  Ada 4 hal yg perlu dicatat:

1)       Mereka adalah orang-orang yg berlatarbelakang Yahudi

2)       Kemiskinan. Pembaca surat Yakobus adalah orang2 miskin (2:1-13;5:1-6; 4:13-17).

3)       Ketidakdewasaan.   Mereka kurang dewasa dalam iman mereka terbukti dari:

a.       Mereka gagal untuk "mempraktekan apa yg mereka pelajari" (1:22-27; 2:8-11)

b.       Mereka suka memihak kepada org2 kaya dan tidak mau menolong orang2 percaya lain yg miskin (2:1-26)

c.       Mereka tidak bisa menjaga mulut/perkataan mereka (3:1-12)

d.       Mereka cenderung untuk mengandalkan diri sendiri dan tidak mengandalkan Allah (4:13-17)

4)       Penindasan: Penerima surat Yakobus ini juga adalah orang2 yg tertindas.  Kemungkinan besar karena mereka hidup dalam kemiskinan, ditambahkan juga karena keyakinan Kristen mereka, membuat mereka harus lebih tertindas dan menderita.

·         Penafsiran: 1:26-27

-          Yakobus menutup sesi ini (Pasal 1) dengan pernyataan yang sangat keras.

Ay.26: Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.”

·         Frase pertama “Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah.” 

       Hampir semua terjemahan Inggris, “If any one thinks he is religious”. 

·         Istilah “religious performance”.   Kita tidak tahu religious performance apa yg ada dalam pikiran Yakobus, ttp mungkin ini berbicara mengenai doa, puasa, penyembahan/kebaktian.

·         Tanpa penguasaan lidah semua tindakan agamawi sia-sia belaka.  Yakobus mengatakan “ia menipu dirinya sendiri”

·         Praktek agamawinya menjadi “EMPTY” – “Kosong” (atau sia2) // (2:20,26) -GOSIP!!

 

IMPLEMENTASI 2:

Ø       Ibadah Sejati: Penguasaan lidah secara total kepada Allah

………………………….

Ay. 27 : “…mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka…”

·         Kata “mengunjungi” Yun. “episkeptomai” berarti: mengunjungi, merawat, datang menolong.

·         Yakobus mengatakan ini adalah tindakan agamawi yg “MURNI DAN TAK BERCACAT”

·         Disini Yakobus sedang menunjukan sisi yg lebih POSITIF.  Ia berfokus kepada 2 hal (Ay.27):

1)       Charity (amal, derma) – Perbuatan KASIH

·         Tindakan untuk mengunjungi yatim piatu dan janda miskin merupakan perintah PL (Yes. 1:10-17; Ul. 14:29; Yer. 5:28; Yeh. 22:7; Zach 7:10) dan PB (KPR 6:1-6; 1 Tim. 5:3-16).

·         Dalam PB anak yatim dan janda-janda hampir tidak memiliki peluang untuk mencari nafkah.  Mereka seringkali tidak memiliki pelindung atau penolong (Maz. 146:9).  Masyarakat abad I belum mengenal jaminan sosial.

·         Maksud Yakobus bukan “hanya” mengunjungi yatim piatu dan janda, tetapi kedua elemen ini sebenarnya sedang mewakili orang-orang yang menderita tekanan dan penindasan.

·         Seorang Penafsir: Bila tugas etis dilalaikan, maka ibadah akan sia-sia.  Dengan kata lain Yakobus sedang mengatakan bahwa seolah-olah masalah etika (perbuatan kasih) adalah upacara agamawi yg sesungguhnya.

·         Yakobus memberikan 2 prinsip isi dari kekeristenan sejati:

a.       Kasih yg sungguh2 terhadap mereka yg memerlukan pertolongan

b.       Memelihara kekudusan hidup // Rom.12:1

“Kasih terhadap sesama harus disertai oleh kekudusan di hadapan Allah.  Jika tidak demikian, itu bukan kasih Kristen.”

·         Pesan Tuhan Yesus: Matius 25: 31-46

Mengenali “Wajah Yesus” di tengah-tengah mereka yang papah (miskin dan telanjang dan tak punya apa2) dan tersisih.

 

 

-          Whittier mengatakan:

“Karena ia yang Yesus kasihi yg dapat berkata: Ibadah yg kudus yg berkenan kepada-Nya ialah mencari yang hilang, menghibur hati yang hancur, memberi makan janda dan anak yatim.”   

2)       Menjaga diri:

·         Elemen positif yg berikut adalah menjaga diri tidak dicemarkan oleh dunia.

·         Kata “Kosmos” disini harus dipahami sebagai “kecenderungan dan kekuatan dalam manusia terhadap yg jahat dalam perlawanan/ pertentangannnya dengan ALLAH.

·         Ia harus menjaga diri tidak tercemar dari nilai2 DUNIAWI yg menentang ALLAH.

 

IMPLEMENTASI 3:

Ø       Ibadah Sejati: Perbuatan kasih secara total kepada Allah dan sesama

-          Bukan hanya sayang kepada diri sendiri, tapi juga harus sayang kepada orang lain (kepedulian).

v   Gereja: Ingat Pesan Yesus dalam Mat. 25:31-46 = “Wajah Yesus” di tengah-tengah mereka yang papah dan tersisih.

·      Jangan terlalu sibuk memperindah kemasan-kemasan ibadah, memperindah bangunan gereja

·      Jangan lupa masalah etis/sosial: bukankah gereja harus menjadi garam dan terang untuk dunia?? (Perhatikan: Mat. 5:13-16; Yoh. 3:16)

·      Kalau gereja sibuk mengurus diri sendiri, lupa mengurus orang lain, maka gereja akan menjadi gereja yg kurang sehat alias SAKIT.

·      DR. C. Peter Wagner, dalam bukunya: “The Health Church

     Bab 4: People-Blindness: Why don’t they like us?

-    Gereja tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik.

-    Gereja tidak dapat memberikan dampak apa-apa kdp jemaat dan lingkungan

-    Gereja tdk dpt mengenal dan memenuhi kebutuhan jemaat dan lingkungan

-    Apakah gereja bisa menjadi gereja yg penuh kemuliaan??

    Gagasan Wagner:

“The secret of success for church is to find a need and fill it,

or find a hurt and heal it.”

v   Jemaat:

·      Demikian halnya dengan kita jemaat Tuhan, Perbuatan kasih kita yg nyata kepada org yg lemah baik itu yatim piatu, janda-janda dalam kesusahan mereka, sikap menghormati orang tua, dan segala bentuk kepedulian kita kepada orang lain, inilah ibadah yang sejati. Hidup yg memberi dampak. 

Ø       Ilustrasi:

·         Penebang Pohon

Ada kisah seorang penebang pohon, sebuah penelitian dilakukan kepada para penebang pohon, orang diberikan penawaran akan digaji 2xlipat dalam seminggu, dengan perintah: “Carilah pohon dan mulailah pukul2 pohon dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore, istirahat 1 jam di siang hari, tapi pukul pohon dengan kapak bagian yang tumpul, jd bukan dgn bagian yg tajam dari kapak, hanya dengan bagian yg tumpul.  Pohon itu tidak harus roboh, karena tugasnya memang hanya memukul pohon dengan kapak, dan akan diberi gaji 2xlipat dari pd penghasilan mingguan selama ini yang mereka dapat.  Karena diberi gaji 2xlipat banyak orang melamar dan mereka mulai bawa kapaknya masuk hutan dan mereka mulai pukul-pukul pohon.

Beberapa hari kemudian beberapa orang mulai mengundurkan diri, karena mereka tidak tahan rasa malu ketika orang2 melihat mereka, mereka lewat di pinggir hutan dan mereka mulai bertanya: ”hei gila lu ya, pohon lu pukulin begitu, mana bisa roboh!” Tiap hari mereka menanyakan hal itu, maka setelah satu minggu mereka dapat duit dan mereka tidak mau meneruskan.  Si penelti menawarkan, kalau mereka mau meneruskan, dikasih 3xlipat.  Maka beberapa orang demi uang, mereka melanjutkan tawaran itu. Mereka masuk ke hutan yang lebih dalam yang tidak dilewati oleh siapapun, dan mereka mulai pukul-pukul pohon dengan kapak bagian belakang, jam 12 istirahat, dan jam 1 pukul-pukul pohon lagi dan selanjutnya. Dan di akhir minggu mereka mendapatkan uang 3xlipat. 

Si peneliti menawarkan lagi apakah masih mau melanjutkan untuk minggu yg berikutnya dengan jumlah 3xlipat juga.  Ternyata mayoritas mereka tidak mau, lalu mereka ditanya: Mengapa Anda tidak mau pukul2 pohon dengan income yg banyak? Maka para penebang pohon sejati mulai berkata: “Kami ini penebang pohon, kenikmatan kami tidak hanya untuk mendapat uang, tetapi kenikmatan kami menebang pohon, kalau kami mengayunkan kapak kami bagian yang tajam, tak..krauk,tak…krauk, lalu mulai ada serpihan2 kayu yg keluar bahkan kadang serpihan kayu itu menimpa badan kami, itulah nikmatnya, nikmatnya ketika kami mengayunkan kapak kami pd pohon, pohon itu mulai terluka, pohon itu mulai terkuak, bahkan pohon itu mulai tumbang, bunyi gemerisik ketika pohon itu tumbang itulah nikmatnya yg kami nikmati, bahkan ketika dentuman pohon itu menyentuh tanah ada sebuah kemenangan yg kami rasakan.  Kenikmatan kami menebang pohon adalah kalau ayunan kapak kami itu memberi dampak, ada perubahan pada pohon, ada luka pada pohon, sampai pohon itu roboh dan kami kalahkan.

Sebuah konsep yg  dapat kita pelajari, sebuah hikmat bahwa kepuasan hidup tidak hanya pada uang, tapi kalau apa yg kita lakukan itu memberi dampak.  Kalau kita berbuat sesuatu seperti mengayunkan kapak, dan tidak ada dampaknya apa2, sekalipun mendapat uang, tapi karena pekerjaan yg kita lakukan tidak memberi dampak, maka kepuasan seseorang tidak maksimal.  Bahkan kalau si penebang pohon akan meneruskan dalam jangka waktu yang panjang, bisa-bisa dia menjadi orang yg gila.  Karena itu mari kita dalam hidup ini, kita mencari kepuasan tidak hanya soal uang, tapi apa yg kita lakukan memberi dampak pagi orang lain.  Ketika yg kita lakukan memberi dampak, maka ada kepuasan2 yg lain selain uang, itulah yg membuat seseorang menjadi kuat dalam hidupnya karena ia mempunyai kebahagiaan lain selain materi, yaitu kebahagiaan jiwa, karena hidup yang memberi dampak.

 

·         Aplikasi ilustrasi, Demikian halnya dengan:

-          Gereja: Gereja yg penuh kemuliaan adl gereja yg member dampak. 

Ingat si penebang pohon, sekalipun kaya tp hidupnya tdk bermakna, karna tidak berdampak.

Gereja sebagai lembaga/organisasi seharusnya memberi dampak, baik dalam jemaat maupun masyarakat/lingkungan.  Inilah gereja/ibadah yg memuliakan Tuhan/ibadah sejati, ketika gereja memberi dampak.

-          Jemaat: marilah kita hidup dengan selalu memberi dampak kpd sesama dan lingkungan dengan perbuatan kasih yg nyata.  Inilah kebahagiaan hidup, Inilah ibadah yg sejati, ketika hidup kita memberi dampak.

 

Ø       KESIMPULAN: Implementasi Ibadah yang Sejati  Ibrani 12:1 dan Yakobus 1:26-27:

1.       Ibadah Sejati: Penyerahan diri secara total kepada Allah

2.       Ibadah Sejati: Penguasaan lidah secara total kepada Allah

3.       Ibadah Sejati: Perbuatan kasih secara total kepada Allah dan sesama





Kirim Komentar
Nama (*): Email (*):

Komentar Anda (*):



Formulir Doa